Sign In

Upacara adat Nyangku merupakan sebuah ritual membersihkan pusaka peninggalan leluhur warga Kecamatan Panjalu yang dilaksanakan setiap datangnya bulan Maulud. Acara ini bertujuan untuk menghormati peninggalan dan sebagai ungkapan rasa terima kasih atas jasa leluhur Panjalu.

Leluhur Panjalu dipercaya telah menyebarluaskan agama Islam di wilayah Galuh, Ciamis khususnya di Kecamatan Panjalu. Inti dalam ritual ini adalah pembersihan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh Kerajaan Panjalu.

Upacara ini dilaksanakan setiap Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud oleh warga Panjalu. Pada tahun ini upacara ini akan dilaksankana pada tanggal 23/26 September 2024. Istilah nyangku berasal dari kata “yanko”, dalam bahasa arab yang berarti membersihkan. Kata “yanko” di lidah orang sunda kerap kali berubah menjadi “nyangku”

Kegiatan ini diawali dengan mengeluarkan benda-benda pusaka yang terletak di Museum Bumi Alit.

Adapun benda-benda yang yang dibersihkan dalam upacara adat Nyangku adalah :

  1. Pedang, sebagai senjata yang digunakan untuk membela diri dalam menyebarkan agama Islam.
  2. Cis, merupakan senjata sejenis tombak yang digunakan untuk membela diri dalam rangka menyebarluaskan agama Islam.
  3. Keris komando, senjata yang digunakan raja panjalu sebagai alat komando dalam perang.
  4. Keris, pegangan para bupati panjalu saat menjabat.
  5. Pancaworo, digunakan senjata perang zaman dahulu.
  6. Bangreng, digunakan senjata perang zaman dahulu.
  7. Gong kecil, sebagai alat untuk mengumpulkan rakyat pada zaman dahulu.

Selain benda-benda tersebut, terdapat 3 benda simbolis yang dibersihkan. Benda-benda tersebut yaitu :

  1. Pedang Zulfikar yang diberikan Sayidina Ali bin Abi Thalib kepada Prabu Borosngora
  2. Kujang Panjalu
  3. Keris Stok Komando.

Rangkaian Nyangku

Benda-benda yang telah dibersihkan, diarak menuju Nusa Gede atau pulau kecil yang terletak di tengah Situ Panjalu Hanya para keturunan raja dan orang orang terpilih yang berhak memegang benda pusaka tersebut. Diiringi dengan lantunan sholawat dan iringan alat musik gembyung, benda-benda pusaka diarak kembali menuju Taman Borosngora Alun-Alun Panjalu. Benda-benda pusaka tersebut dilakukan pembersihan atau istilah lainnya itu Jamas.

Saat proses pembersihan, tentunya tidak menggunakan sembarang air, benda-benda dibersihkan menggunakan air suci yang disebut dengan Cai Karomah Tirta Kahuripan. Air itu diambil dari sembilan sumber mata air, yakni dari Situ Lengkong, Gunung Sawal, Cipanjalu, Kubang Kelong, Kapunduhan (makam prabu rahyang kuning), Pasanggrahan, Bongbang Kancana, Gunung Bitung Majalengka dan Ciomas serta ditambah jeruk nipis.

Benda-benda pusaka dicuci dengan air karomah Tirta Kahuripan yang diambil dari 9 sumber mata air. Sumber-sumber mata air ini dikeramatkan oleh masyarakat Kecamatan Panjalu. Air tersebut dibawa menggunakan “kele” yaitu sebuah tempat yang dibuat dari bambu dan dilubangi bagian atasnya.

Selain air, jeruk nipis juga dipakai untuk menghilangkan karat dari benda-benda peninggalan kerajaan Panjalu. Hal tersebut dikarenakan bahan besi tempa pada benda pusaka yangtermakan usia pasti menimbulkan karat tebal. Setelah dilakukan penyucian, benda peninggalan diolesi minyak khusus yang kemudian dibungkus kain berwarna putih dan disimpan kembali ke Pasucian Bumi Alit. Semua benda pusaka peninggalan Raja Panjalu dibersihkan. Namu ada yang diperlihatkan secara simbolis ke masyarakat hanya tiga. Yakni Pedang Zulfikar, Kujang Panjalu dan Keris Stok Komando.

Dalam rangkaian acara turut hadir penampilan tari kele sebagai penyambutan dengan menyucikan tamu-tamu yang datang berkunjung. Istilah kele itu sendiri berarti bambu atau juga disebut lodong yang berfungsi untuk mengambil nira di kalangan masyarakat Sunda.

Video

Location

Add Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Service
Value for Money
Location
Cleanliness